okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Target swasembada pangan Kalimantan Timur pada 2026 kembali ditegaskan Wakil Gubernur Seno Aji. Namun di balik optimisme itu, ia menekankan satu syarat mendesak: ketersediaan irigasi yang memadai. Tanpa percepatan pembangunan jaringan irigasi, produktivitas pertanian yang terbukti meningkat lewat uji coba demplot Bukit Biru dikhawatirkan sulit diperluas ke ribuan hektare lahan lain di Kukar.
Dalam panen perdana padi varietas Leisa di demplot 10 hektare di Kelurahan Bukit Biru, Tenggarong, Seno menyebut hasil uji coba sangat menggembirakan. Produktivitas yang semula 3,6 ton per hektare, kini naik hingga 6,2 ton per hektare. Peningkatan 72 persen ini disebut menjadi bukti nyata efektivitas digitalisasi farming dan mekanisasi modern.
Meski begitu, Seno menegaskan keberhasilan di Bukit Biru hanya awal. Kukar memiliki 13 ribu hektare sawah aktif yang siap dioptimalkan. Jika produktivitas rata-rata 6 ton per hektare dengan tiga kali panen setahun bisa dicapai, potensi gabah yang dihasilkan mencapai 33 ribu ton. “Kalau dihitung, potensi lahan kita bisa menghasilkan 33 ribu ton per tahun. Maka dengan teknologi ini, target swasembada pangan pada tahun 2026 InsyaAllah bisa tercapai,” ujarnya, Jumat (12/9/2025).
Namun ia mengingatkan, proyeksi itu mustahil terwujud tanpa irigasi. “Kuncinya ada di irigasi. Kami sudah diskusi dengan Kementerian PUPR untuk percepatan pembangunan irigasi. Kalau ini terpenuhi, panen tiga kali setahun bukan lagi sekadar wacana. Itu akan bisa kita wujudkan,” tegasnya.
Dengan demikian, arah kebijakan pangan Kaltim kini berpijak pada tiga pilar: adopsi teknologi modern, optimalisasi lahan aktif, dan percepatan pembangunan irigasi. Dukungan pemerintah pusat, khususnya Kementerian PUPR, akan menjadi faktor penentu keberhasilan Kaltim dalam mencapai swasembada pangan sesuai target pada 2026. (adv/distanakkukar/atr)








