okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Meski partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah terus tumbuh, upaya meningkatkan kesadaran masih menjadi pekerjaan besar. Ketua Forum Bank Sampah Kutai Kartanegara (Kukar), Nurdin, menyebut edukasi pengelolaan sampah sebagai tantangan utama yang harus segera diatasi agar gerakan lingkungan ini dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Hingga kini, Forum Bank Sampah Kukar telah menaungi 183 kelompok yang aktif di berbagai kecamatan. Angka tersebut menunjukkan meningkatnya antusiasme warga terhadap pengelolaan sampah berbasis komunitas. Namun, menurut Nurdin, banyak masyarakat yang masih menganggap sampah sekadar limbah tanpa nilai.
“Kendalanya memang di edukasi. Masyarakat masih perlu didorong agar sadar bahwa sampah itu punya nilai ekonomi dan bisa dimanfaatkan kembali,” ujarnya kepada okeborneo.com saat kegiatan World Clean Up Day 2025 di Tenggarong, Sabtu (11/10/2025).
Ia menegaskan bahwa edukasi tidak bisa dilakukan sepihak. Pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat perlu bersinergi agar pesan tentang pentingnya pengelolaan sampah menjangkau lebih luas.
“Kita butuh perhatian bersama. Kalau pemerintah dan swasta bisa turun langsung mendukung, maka gerakan bank sampah ini akan berkembang lebih cepat,” tambahnya.
Nurdin juga mengapresiasi dukungan dari berbagai organisasi seperti PKK, Dharma Wanita, dan sejumlah perusahaan yang telah mengadakan pelatihan daur ulang. Lewat kegiatan tersebut, anggota bank sampah belajar mengolah limbah plastik menjadi produk berguna, seperti tas belanja, pot tanaman, hingga perabot rumah tangga.
“Sekarang banyak hasil karya teman-teman bank sampah yang bernilai jual. Ini membuktikan bahwa sampah bisa menjadi sumber penghasilan,” katanya.
Meski begitu, tantangan lain tetap ada. Beberapa kelompok bank sampah masih kekurangan fasilitas dasar, terutama armada pengangkutan. Sejumlah pengelola bahkan menggunakan kendaraan pribadi untuk membawa hasil olahan ke lokasi penjualan.
“Kalau bisa ke depan ada dukungan armada khusus untuk bank sampah, supaya kegiatan pengumpulan dan pemasaran produk bisa lebih lancar,” harapnya.
Nurdin pun mengingatkan seluruh anggota forum agar tidak menyerah dengan keterbatasan. Ia menilai perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil dan konsistensi individu.
“Jangan malu memungut sampah. Sampah bukan sesuatu yang jorok, tapi bernilai. Mulailah dari rumah sendiri. Kalau semua bergerak, lingkungan kita pasti lebih bersih,” tegasnya. (adv/dlhkkukar/atr)








