okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA—Sabtu pagi di kawasan hulu Kutai Kartanegara. Hujan baru saja reda ketika rombongan Komisi IV DPRD Kukar menyusuri jalan menuju dua sekolah yang selama ini jarang tersentuh pemberitaan. SMP Negeri 4 di Desa Batuq dan sebuah SMP Negeri di Desa Jantur menjadi tujuan sidak setelah laporan masyarakat menyebut kondisi sekolah tak lagi layak menampung aktivitas belajar.
Setibanya di lokasi, pemandangan yang tersaji memperlihatkan kenyataan pahit dunia pendidikan di wilayah pedalaman. Genteng-genteng tua yang menghitam, dinding lembap, serta ruang kelas yang basah di beberapa sudut menjadi bukti bahwa sekolah-sekolah ini menanggung usia bangunan yang terlalu tua untuk melawan cuaca.
“Ketika hujan turun, air langsung masuk. Hampir semua ruang kelas mengalami kebocoran,” tutur Sopan Sopian, Anggota Komisi IV DPRD Kukar, Rabu (29/10/2025).
Pembelajaran Terganggu, Anak-Anak Belajar dalam Kondisi Tidak Ideal
Dalam sidak tersebut, Sopan menyaksikan bagaimana murid-murid terpaksa menggeser meja untuk menghindari tetesan air yang jatuh dari atap. Beberapa guru bahkan mengaku sering menunda kegiatan belajar ketika hujan deras karena ruang kelas tak dapat digunakan.
“Kondisi seperti ini sangat mengganggu proses pembelajaran. Ini tidak boleh dibiarkan,” katanya.
Bagi Sopan, bangunan sekolah bukan sekadar tembok dan atap. Ia adalah rumah kedua bagi anak-anak yang sedang belajar bermimpi. Karena itu, renovasi bukan lagi opsi, tetapi kebutuhan mendesak.
Lapangan Upacara yang Tak Lagi Bisa Digunakan
Temuan lain yang cukup memprihatinkan adalah kondisi lapangan upacara. Di SMP di Desa Jantur, lapangan selalu berubah menjadi kubangan lumpur setiap kali air pasang. Upacara Bendera Merah Putih, kegiatan yang seharusnya membentuk karakter dan kecintaan terhadap tanah air, terpaksa ditiadakan.
“Anak-anak kalau air pasang tidak bisa menggelar upacara. Setelah pasang, lapangan menjadi berlumpur dan tidak aman,” ujar Sopan.
Ia menilai, lapangan upacara bukan hanya pelengkap. Di situ karakter disiplin dan semangat kebangsaan tumbuh. Karena itu, pembangunan lapangan menjadi pekerjaan yang harus segera dilakukan.
Fokus pada Kebutuhan Dasar, Bukan Sekadar Pengadaan Alat Canggih
Dalam kesempatan itu, Sopan menyoroti agar Disdikbud Kukar tidak terjebak pada pengadaan alat modern seperti papan tulis digital ketika kondisi bangunan sekolah masih jauh dari layak.
“Percuma beli alat canggih kalau atapnya bocor. Alat itu tidak akan bisa digunakan maksimal,” tegasnya.
Ia meminta Disdikbud lebih jeli menentukan prioritas, menyesuaikan kondisi di lapangan serta kemampuan anggaran daerah.
Respons Disdikbud: Kerusakan Akan Ditangani Sesuai Kategorinya
Menanggapi temuan tersebut, Plt Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto, menjelaskan bahwa pihaknya akan melakukan verifikasi kondisi kerusakan bangunan.
“Kerusakan ada kategorinya: ringan, sedang, dan berat. Yang ringan bisa diperbaiki sekolah dengan dana BOSKab. Kalau sedang dan berat, pemerintah daerah yang akan turun tangan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa Disdikbud Kukar memiliki komitmen menyediakan sekolah yang aman, nyaman, dan layak untuk kegiatan belajar. Pihak sekolah pun diimbau proaktif melapor jika membutuhkan intervensi pemerintah.
Harapan Baru untuk Pendidikan di Zona Hulu
Sidak ini menjadi pengingat bahwa masih ada sekolah-sekolah yang berjuang dalam keterbatasan. Komisi IV DPRD Kukar memastikan akan mengawal kebutuhan sekolah-sekolah tersebut agar mendapatkan perbaikan yang layak.
“Kami diberi amanah untuk melihat langsung kondisi sekolah di daerah hulu. Dan kami akan memperjuangkan agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” ujar Sopan.
Di tengah gedung sederhana dan lapangan becek di pedalaman Kukar, semangat anak-anak untuk belajar tak pernah padam. Kini tinggal menunggu komitmen pemerintah daerah untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih layak, agar masa depan mereka tidak lagi bocor bersama atap yang runtuh oleh waktu. (adv/dprdkukar/atr)








