okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kutai Kartanegara menekankan pentingnya memperkuat pengelolaan sampah sejak dari hulu, agar tidak sepenuhnya bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Irawan, menyebut pengolahan sampah di sektor hulu melibatkan keberadaan bank sampah, TPS 3R, hingga komunitas pemerhati lingkungan. Sekolah-sekolah pun ikut digerakkan melalui program Bang Sapa.
“Pemikiran kita jangan hanya berorientasi membuang sampah ke TPA. Sampah itu punya nilai. Misalnya botol plastik atau kardus, kalau dikumpulkan bisa menghasilkan uang,” ujar Irawan di Tenggarong.
Ia menambahkan, konsep pengelolaan saat ini adalah meminimalkan sampah yang berakhir di TPA. Kondisi TPA Bukotok yang sudah beroperasi lebih dari 30 tahun kini mengalami kelebihan kapasitas. “Kalau hanya bicara Tenggarong, masih ada 20 kecamatan lain yang juga harus dipikirkan pola pengelolaan sampahnya,” katanya.
DLHK Kukar kini mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui bank sampah. Skema ini memungkinkan sampah terkumpul di masyarakat untuk disalurkan ke bank sampah induk, kemudian ditimbang, diangkut, bahkan dibeli. Dari situ, sampah bisa diolah menjadi produk bernilai, mulai dari paving block, bahan bakar alternatif, hingga lilin dari minyak jelantah.
“Pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Yang paling penting adalah mengubah mindset masyarakat agar peduli dan tidak sembarangan membuang sampah,” tegas Irawan. (adv/dlhkkukar/atr)








