Menu ✖

Mode Gelap

Pos-pos Terbaru · 2 Feb 2026 18:21 WITA

Kasus Pencabulan Ponpes Tenggarong Seberang, JPU Tegaskan Penyakit Terdakwa Bukan Alasan Peringanan


 Ilustrasi penanganan perkara kasus pencabulan yang terjadi di lingkungan pondok pesantren. Perbesar

Ilustrasi penanganan perkara kasus pencabulan yang terjadi di lingkungan pondok pesantren.

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fitra Ira Purnawati menegaskan akan membantah seluruh pembelaan yang disampaikan terdakwa berinisial MAB dalam perkara pencabulan yang terjadi di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Tenggarong Seberang.

Dalam pembelaannya, terdakwa bersama penasihat hukumnya mengakui perbuatan yang dilakukan serta memohon keringanan hukuman. Penasihat hukum menilai bahwa dengan berlakunya KUHP lama dan KUHP yang baru, pidana penjara bukan satu-satunya bentuk hukuman yang dapat dijatuhkan kepada terdakwa.

“Penasihat hukum menyampaikan adanya alternatif hukuman lain seperti kerja sosial, rehabilitasi medis, dan bentuk hukuman lainnya,” ujar JPU Fitra Ira Purnawati usai mengikuti proses persidangan.

Permohonan tersebut didasarkan pada anggapan bahwa terdakwa memiliki kelainan orientasi seksual. Meski demikian, JPU menyatakan pihaknya mempersilakan pembelaan tersebut disampaikan dalam persidangan.

Namun, JPU menegaskan bahwa kondisi terdakwa tidak dapat dijadikan alasan pembenar maupun pemaaf. Hal itu merujuk pada keterangan dokter ahli kejiwaan yang telah dihadirkan dalam persidangan.

“Keterangan ahli kejiwaan sudah jelas dan telah dicatat secara lengkap. Penyakit atau kondisi terdakwa bukan alasan pembenar dan pemaaf atas perbuatannya,” tegasnya.

JPU menyampaikan bahwa seluruh poin pembelaan akan ditanggapi secara resmi pada sidang tanggapan yang dijadwalkan berlangsung pada hari Kamis. Hingga saat ini, permohonan keringanan hukuman dari pihak terdakwa belum dikabulkan dan masih sebatas permintaan.

Terkait agenda persidangan, JPU akan menyampaikan tanggapan pada tanggal 5, kemudian pihak terdakwa diberikan kesempatan untuk menanggapi kembali. Setelah itu, JPU kembali menyampaikan tanggapan lanjutan pada hari Selasa sebelum majelis hakim menjatuhkan putusan.

Dalam kesimpulan pembelaannya, penasihat hukum terdakwa menyampaikan sejumlah pertimbangan keringanan hukuman, antara lain terdakwa menyesali dan mengakui perbuatannya, merasa bersalah, belum pernah dihukum sebelumnya, serta dinilai bersikap jujur, sopan, dan santun selama persidangan.

Selain itu, terdakwa melalui keluarganya telah menyampaikan permohonan maaf kepada korban. Terdakwa juga mengakui kekhilafannya, menyatakan bertanggung jawab atas perbuatannya, serta memohon hukuman yang tidak merenggut masa depannya agar dapat memperbaiki kesalahan.

“Terdakwa berharap bisa mendapatkan pengobatan dan ke depan dapat menjadi guru yang baik,” demikian disampaikan dalam pembelaan.

Seluruh permohonan tersebut akan menjadi materi tanggapan JPU pada sidang lanjutan yang akan digelar dalam waktu dekat. (atr)

Artikel ini telah dibaca 48 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sekda Kukar Dorong Kolaborasi Korpri dan PWRI, Pensiunan ASN Tetap Aktif di Masyarakat

29 Oktober 2026 - 17:48 WITA

Sunggono Tekankan Peningkatan Pelayanan dan Kesejahteraan Anggota KORPRI Kukar

29 Oktober 2026 - 13:43 WITA

Maknai Sumpah Pemuda, Ahmad Yani Ajak Generasi Muda Bersatu Bangun Kukar

29 Oktober 2026 - 13:40 WITA

Kukar Idaman Terbaik Siapkan Skema Pembangunan Terpadu Rp100 Miliar per Kawasan Perdesaan

29 Oktober 2026 - 13:37 WITA

Ahmad Yani Soroti Antrean BBM di Kukar, Dugaan Penyimpangan Distribusi Bakal Dievaluasi

29 Oktober 2026 - 13:34 WITA

Etam Sejahtera Kukar Salurkan Bantuan Rp6,5 Miliar untuk 2.197 Santri Pesantren

29 Oktober 2026 - 13:30 WITA

Trending di Advertorial