Menu ✖

Mode Gelap

Advertorial · 27 Sep 2025 14:43 WITA

Lingkungan Bersih, Amal Jalan, Bank Sampah Al Hidayah Maluhu Jadi Contoh Gerakan Warga Mandiri


 Ketua Bank Sampah Al Hidayah, Sugiarto, menunjukkan lokasi penampungan sampah sebelum didaur ulang di Kelurahan Maluhu, Kukar (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Ketua Bank Sampah Al Hidayah, Sugiarto, menunjukkan lokasi penampungan sampah sebelum didaur ulang di Kelurahan Maluhu, Kukar (Angga/okeborneo.com)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Dari sebuah kegiatan yasinan rutin, lahir sebuah ide yang sederhana namun berdampak luas di Kelurahan Maluhu, Kecamatan Tenggarong. Seusai doa bersama dan santap malam, para jamaah terlibat dalam percakapan ringan. Dari obrolan kecil itu, muncul gagasan yang belakangan menjelma menjadi gerakan sosial-lingkungan bernama Bank Sampah Al Hidayah.

Sugiarto, Ketua Bank Sampah Al Hidayah, mengenang awal mula terbentuknya lembaga tersebut. “Kami awalnya hanya ingin membantu. Dari yasinan itu terbentuk TPQ untuk anak-anak, lalu muncul pula keinginan memberikan santunan kepada janda-janda,” tuturnya saat ditemui. Namun niat baik itu menghadapi tantangan nyata: sampah yang berserakan di sekitar lingkungan.

Di kawasan Maluhu kala itu, sampah organik maupun anorganik tidak terkelola dengan baik. Kesadaran masyarakat masih minim, sehingga sampah menumpuk di lahan-lahan kosong maupun parit. Dari situlah lahir ide membentuk bank sampah. Konsepnya sederhana: warga mengumpulkan sampah, kemudian dikelola, sebagian dijual, dan hasilnya disalurkan untuk kepentingan sosial serta pendidikan. “Hasilnya bisa didonasikan untuk TPQ, sekaligus membantu para janda,” jelas Sugiarto.

Gagasan itu disambut antusias oleh jamaah. Tanpa banyak perdebatan, warga sepakat membentuk Bank Sampah Al Hidayah. Sugiarto, yang saat itu paling aktif mengusulkan ide, dipercaya sebagai pengelola utama. “Saya pun ditunjuk, dan alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan,” ucapnya.

Kini, Bank Sampah Al Hidayah bukan hanya berfungsi sebagai pengelola sampah, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan. Dari sampah anorganik, warga bisa memperoleh dana tambahan untuk mendukung operasional TPQ. Sementara kompos dari sampah organik disalurkan ke kelompok ibu-ibu untuk menanam sayuran. Hasil panennya kembali diputar menjadi dana sosial. Pola sederhana ini menciptakan siklus yang bukan hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi.

Menurut Sugiarto, yang dilakukan Bank Sampah Al Hidayah adalah bentuk amal jariyah yang berkelanjutan. “Kami ingin amal jariyah. Dengan sampah pun, kita bisa berbuat baik,” katanya. Konsistensi itulah yang membuat bank sampah ini kini menjadi contoh kecil bagaimana kepedulian sosial dan kepedulian lingkungan bisa berjalan beriringan. (adv/dlhkkukar/atr)

Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Arbizz Space Batasi Wahana Permainan, Maksimal 40 Unit saat Akhir Pekan

28 Oktober 2026 - 16:59 WITA

Pemkab Kukar Alokasikan Anggaran Umrah Gratis bagi Pemuka Agama Mulai 2027

28 Oktober 2026 - 14:48 WITA

Kukar Idaman Terbaik Dorong Solusi Air Bersih hingga Wilayah Pesisir

28 Oktober 2026 - 14:47 WITA

RT-KU Terbaik Jadi Langkah Kukar Perkuat Infrastruktur Digital hingga Permukiman

28 Oktober 2026 - 14:31 WITA

Sumpah Pemuda ke-98, Bupati Kukar Ajak Generasi Muda Terlibat Aktif dalam Pembangunan

28 Oktober 2026 - 13:41 WITA

Tabang Masih Kerap Padam, Bupati Kukar Dorong Pemerataan Manfaat Batu Bara Lewat PLTU

27 Oktober 2026 - 20:26 WITA

Trending di Advertorial