Menu ✖

Mode Gelap

Advertorial · 27 Sep 2025 14:40 WITA

Minyak Jelantah Jadi Lilin, Bank Sampah Al Hidayah Bina Kelompok Ibu-Ibu di Kukar


Ketua Bank Sampah Al Hidayah Sugiarto memberikan edukasi pengelolaan minyak jelantah kepada kelompok ibu-ibu pengajian di Kelurahan Sukarame, Kukar (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Ketua Bank Sampah Al Hidayah Sugiarto memberikan edukasi pengelolaan minyak jelantah kepada kelompok ibu-ibu pengajian di Kelurahan Sukarame, Kukar (Angga/okeborneo.com)

okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Bagi sebagian orang, minyak jelantah hanyalah sisa dapur yang dibuang begitu saja. Namun, bagi Bank Sampah Al Hidayah, limbah ini justru bisa menjadi pintu masuk untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.

Sabtu (27/9/2025), di salah satu rumah warga Kelurahan Sukarame, belasan ibu-ibu pengajian duduk bersila mendengarkan penjelasan Sugiarto, Ketua Bank Sampah Al Hidayah dari Kelurahan Maluhu. Ia tak sedang berbicara soal kajian rutin, melainkan tentang bahaya minyak jelantah. “Kalau dibuang ke tanah, merusak kesuburan. Kalau ke air, merusak ekosistem sungai. Kalau ke saluran, bikin mampet,” jelasnya.

Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Bank Sampah Al Hidayah dalam menanamkan kepedulian lingkungan. Sugiarto menekankan bahwa sampah, termasuk limbah B3 rumah tangga, bisa bernilai ekonomi bila dikelola. Minyak jelantah, misalnya, dapat diolah menjadi lilin aromaterapi yang tidak hanya bermanfaat, tapi juga memiliki nilai jual. “Sumbangan itu tidak selalu uang. Sampah pun bisa jadi sumbangan,” ujarnya.

Gagasan mendirikan Bank Sampah Al Hidayah sendiri berawal dari keresahan jemaah pengajian melihat sampah menumpuk di lingkungan sekitar. Dari percakapan kecil, lahirlah inisiatif besar: mendirikan bank sampah, lalu hasilnya digunakan mendukung kegiatan Taman Pendidikan Quran (TPQ) dan membantu janda-janda sekitar.

Perjalanan membangun kesadaran memang tak mudah. Ada warga yang menolak, merasa repot, bahkan tak peduli. Namun dengan konsistensi, perlahan muncul perubahan. Kini, sejumlah kelompok ibu-ibu di Maluhu dan Sukarame terbiasa memilah sampah organik dan anorganik. Daun kering diolah menjadi kompos untuk menanam sayur, sementara sampah anorganik tetap ditampung agar lingkungan bersih.

Di akhir sosialisasi, Sugiarto mengingatkan pentingnya terus membicarakan isu sampah. “Kalau kita berhenti, sampah yang akan menguasai kita,” pungkasnya. (adv/dlhkkukar/atr)

Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pabrik Rumput Laut Muara Badak Belum Beroperasi, Kukar Siapkan Rp10 Miliar untuk Fasilitas Pendukung

5 Oktober 2026 - 21:40 WITA

Usai Tampil di Erau 2026, 350 Penari Terima Honor Rp1,4 Juta

5 Oktober 2026 - 21:22 WITA

HUT ke-81 TNI, Pemkab Kukar Perkuat Sinergi Bersama Jajaran TNI

5 Oktober 2026 - 21:19 WITA

Kebakaran Besar di Danau Aji Tenggarong, Puluhan Bangunan Dilaporkan Terbakar

5 Oktober 2026 - 21:17 WITA

KAHMI Kukar Perkuat Soliditas dan Sinergi Pembangunan di Milad ke-60

4 Oktober 2026 - 15:24 WITA

Arbizz Space Diluncurkan, Aulia Harap Jadi Pusat Aktivitas UMKM dan Rekreasi di Kukar

4 Oktober 2026 - 11:28 WITA

Trending di Advertorial