Menu

Mode Gelap

Pariwisata · 18 Agu 2026 18:13 WITA

Pesut yang Menepi dan Karpet Hijau yang Menghipnotis di Dasar Danau Semayang


Hamparan Hijau di Danau Semayang yang mengering akibat Cuaca Ekstream di Desa Pela (Angga/okeborneo.com) Perbesar

Hamparan Hijau di Danau Semayang yang mengering akibat Cuaca Ekstream di Desa Pela (Angga/okeborneo.com)

KOTA BANGUN – Deru mesin perahu motor yang biasanya membelah riak air Danau Semayang, sore itu tak terdengar. Suara bising baling-baling bambu penunjuk arah angin kini berganti menjadi riuh tawa riang, canda muda-mudi, dan langkah kaki yang menapak santai di atas rerumputan lembut.

Air yang dulunya menjadi rumah bagi mamalia air tawar paling langka di dunia, Pesut Mahakam, telah menyusut habis. Namun, keringnya danau purba di Kabupaten Kutai Kartanegara ini tidak membawa duka atau wajah gersang yang meranggas. Alam justru sedang melukis mahakarya lain yang tak kalah menakjubkan.

Kamis sore (13/8/2026), Tim Redaksi Okeborneo.com menginjakkan kaki di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun. Bagi pencinta wisata alam dan konservasi, desa ini bukanlah nama yang asing. Keberhasilannya menggaet penghargaan di tingkat nasional hingga internasional telah menempatkan Desa Pela sebagai salah satu destinasi ekowisata unggulan di Kalimantan Timur.

Magnet utamanya selalu sama: kesempatan emas untuk menyaksikan langsung aktivitas mamalia endemik Pesut Mahakam yang berenang bebas di habitat aslinya.
Namun, siklus alam selalu punya kejutan tersendiri. Ketika musim kemarau panjang tiba, Desa Pela tidak kehilangan daya pikatnya.

Ia justru bermutasi, melahirkan sebuah destinasi wisata baru yang lahir dari rahim keringnya Danau Semayang.

Ketika Air Berganti Karpet Hijau Raksasa
Biasanya, petualangan di Desa Pela diwarnai dengan debaran jantung saat perahu kayu melaju di atas air danau yang memiliki kedalaman rata-rata 3,5 meter. Wisatawan akan menajamkan mata, menanti momen magis ketika punggung abu-abu sang pesut menyembul ke permukaan untuk bernapas.

Kini, pemandangan itu berubah total. Danau Semayang yang memiliki luas luar biasa mencapai 13.000 hektare atau sekitar 130 kilometer persegi mengalami kekeringan total. Airnya menguap, menyisakan dasar danau yang subur. Dalam hitungan minggu, tanah yang dulunya terendam air itu ditumbuhi rerumputan hijau yang rapat, tebal, dan segar. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah hamparan padang rumput raksasa yang menyerupai sabana di dalam dongeng.

Lalu, ke mana perginya para pesut? Kelompok hewan cerdas itu tahu kemana harus melangkah. Mereka menepi, bermigrasi sementara waktu mengikuti aliran air yang lebih dalam ke arah sungai-sungai utama di sekitarnya. Kepergian sementara sang ikon desa ternyata membuka pintu rezeki baru. Lanskap Danau Semayang yang berubah menjadi lapangan hijau tak berujung justru menjadi fenomena viral yang memantik rasa penasaran publik.
Magnet Sore Hari di Pelukan Alam Pedalaman
Waktu menunjukkan pukul 16.30 WITA ketika atmosfer di tepian Danau Semayang mulai bergeser menjadi sangat semarak. Ratusan wisatawan dari berbagai daerah—mulai dari warga lokal Kutai Kartanegara, Samarinda, Balikpapan, hingga luar daerah—mulai memadati area tersebut. Mereka datang berbondong-bondong, lari dari penatnya rutinitas kota demi menikmati fenomena tahunan yang langka ini.

Aktivitas di atas “danau hijau” ini sangat beragam. Ada keluarga kecil yang membawa tikar, menggelar bekal, dan berpiknik santai di tengah lapangan. Di sudut lain, tampak kelompok muda-mudi sibuk mengarahkan kamera ponsel mereka, berburu foto estetik dengan memanfaatkan siluet pohon kering dan pantulan cahaya matahari yang mulai melunak. Anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki, menikmati kebebasan berkejaran di atas rumput alami yang luasnya seolah tanpa batas.

Saat matahari mulai condong ke barat, langit Kota Bangun perlahan berubah warna. Gradasi warna jingga, ungu, dan kemerahan menyatu di cakrawala, membingkai hamparan hijau Danau Semayang dengan sangat magis. Angin sepoi-sepoi khas pedalaman Kalimantan bertiup lembut, membawa hawa sejuk yang membuat siapapun yang datang akan melupakan sejenak bahwa mereka sebenarnya sedang berdiri di dasar sebuah danau besar.

“Ini pengalaman yang sangat unik dan kontradiktif. Beberapa bulan lalu saya ke sini naik perahu dan melihat air yang sangat luas. Hari ini, saya bisa berdiri, berjalan, bahkan duduk santai di tempat yang sama yang dulunya adalah dasar danau yang dalam. Alam Kalimantan memang tidak pernah kehabisan cara untuk membuat kita takjub,” ujar salah seorang pengunjung yang terpukau melihat perubahan drastis alam tersebut.
Keramahtamahan Pokdarwis Pela yang Sigap
Lonjakan wisatawan yang datang setiap sorenya tentu memerlukan pengelolaan yang matang agar kebersihan dan kelestarian lingkungan danau tetap terjaga. Di sinilah peran penting masyarakat lokal mengambil alih tanggung jawab melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pela.

Dipimpin oleh Alimin, organisasi berbasis komunitas ini bergerak cepat menyusun sistem pelayanan yang ramah dan terstruktur bagi para pelancong. Pokdarwis memastikan bahwa setiap wisatawan yang datang bisa menikmati keindahan fenomena kemarau ini dengan aman dan nyaman, sekaligus mengarahkan alur transportasi serta menjaga ketertiban di area desa. Wisatawan yang ingin berkunjung dan menikmati keindahan alam ini dapat langsung berkomunikasi dengan pihak pengelola untuk mendapatkan panduan terbaik.

“Kami dari Pokdarwis Desa Pela selalu siap menyambut hangat dan memandu para wisatawan yang datang. Musim kemarau ini adalah berkah lain bagi kami. Kami ingin menunjukkan kepada nasional bahwa Desa Pela dan Danau Semayang selalu memiliki pesona yang hidup, baik saat airnya sedang pasang penuh maupun ketika alam mengubahnya menjadi daratan hijau seperti sekarang,” ungkap Alimin dengan senyum ramah yang khas.

Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya di balik garis cakrawala, meninggalkan kegelapan malam yang perlahan turun menutupi padang rumput Semayang. Namun, jejak kekaguman di wajah para wisatawan yang pulang malam itu mempertegas satu hal: kemarau mungkin menyembunyikan sang pesut untuk sementara waktu, namun ia telah membuka tabir pesona lain yang membuktikan bahwa Desa Pela selalu punya cara magis untuk menghipnotis siapa saja yang datang berkunjung.(atr)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Remisi HUT RI, 14 Warga Binaan di Kukar Langsung Bebas

17 Agustus 2026 - 20:16 WITA

Semangat Kemerdekaan Jadi Momentum Kukar Berdiri di Atas Kaki Sendiri

17 Agustus 2026 - 12:54 WITA

Jalan Margasari Ambruk, Jalur Tenggarong-Loa Janan Lumpuh Total

15 Agustus 2026 - 13:46 WITA

Aulia Lantik Camat Sanga-Sanga dan Pejabat Fungsional, Perkuat Roda Pemerintahan Kukar

14 Agustus 2026 - 19:21 WITA

Lampiran Honor Disdikbud Disebut Berbeda, Dosen Hukum Urai Batas Peran Bankaltimtara

12 Agustus 2026 - 17:08 WITA

Bankaltimtara

Kekurangan Air Tekan Sawah Kukar, Hasil Panen Diperkirakan Turun Jadi 2 Ton per Hektare

12 Agustus 2026 - 16:52 WITA

kekurangan air sawah Kukar
Trending di Pos-pos Terbaru