okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Regenerasi petani di Kecamatan Kembang Janggut menghadapi tantangan besar. Perwakilan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) setempat, Syahran, mengungkapkan bahwa generasi muda di wilayah tersebut nyaris tidak ada yang tertarik menggeluti pertanian pangan.
“Anak-anak muda sekarang tidak melirik pertanian. Rata-rata kalau sudah kuliah mereka tidak kembali bertani, melainkan bekerja di perusahaan tambang. Kalau pun ada, mereka lebih memilih membuka kebun sawit,” jelas Syahran.
Menurutnya, kondisi alam menjadi salah satu penyebab pertanian pangan sulit berkembang. Wilayah Kembang Janggut kerap dilanda banjir karena letaknya yang rendah, sehingga lahan persawahan padi maupun jagung kurang stabil.
“Tantangan lainnya memang hama dan penyakit tanaman, tapi itu masih bisa diatasi secara teknis. Kalau faktor alam seperti banjir, itu yang sulit dikendalikan,” tambahnya.
Dengan harga sawit yang menjanjikan, banyak petani akhirnya mengalihkan lahan persawahan menjadi perkebunan kelapa sawit.
“Kalau punya dua hektare saja, hasil sawit bisa langsung mendatangkan uang. Ini yang membuat sawah-sawah kini banyak ditanami sawit,” ungkapnya.
Kondisi ini dikhawatirkan akan mempersempit ruang pengembangan pangan di Kembang Janggut. Ke depan, dukungan pemerintah dinilai penting agar komoditas pangan tidak sepenuhnya ditinggalkan masyarakat.(adv/distanakkukar/atr/ob1/ef)








