okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA — Kratom mulai dilihat sebagai sumber ekonomi baru di Kutai Kartanegara. Dengan sekitar 12.000 petani dan produksi yang pernah menembus 200 hingga 300 ton per bulan untuk pasar ekspor, komoditas ini kini menarik perhatian Kalimantan Utara yang datang untuk belajar sekaligus menjajaki kerja sama.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara mengirimkan tim yang dipimpin Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Hery Rudiyono, untuk melihat langsung pengelolaan kratom di Kukar. Kunjungan tersebut merupakan penugasan dari gubernur sebagai langkah awal membuka peluang kerja sama, baik antarpemerintah maupun antar pelaku usaha.
“Kami tidak ingin kehilangan momentum. Kratom ini peluang ekonomi yang menjanjikan, dan kami ingin mempelajarinya lebih dalam,” ujar Hery.
Ia menjelaskan, kratom di Kalimantan Utara sebenarnya sudah mulai berkembang di sejumlah wilayah seperti Malinau, Tana Tidung, Nunukan, dan Bulungan. Namun, pengelolaannya dinilai masih belum optimal karena tergolong komoditas baru dan belum tertata secara sistematis.
Kondisi itu berbeda dengan Kutai Kartanegara yang dinilai telah lebih dahulu mengembangkan kratom secara luas dan terorganisir. Selain jumlah petani yang besar, kapasitas produksi yang mencapai ratusan ton per bulan juga menunjukkan bahwa komoditas ini telah masuk dalam skala ekonomi yang serius.
Sekretaris Daerah Kukar, Sunggono, menyebut kratom saat ini tidak lagi dipandang sebagai tanaman biasa, melainkan komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi mendorong pendapatan daerah.
“Permintaan pasar terus meningkat, termasuk untuk kebutuhan ekspor. Ini peluang yang harus dimanfaatkan dengan pengelolaan yang baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama ini distribusi kratom dari Kalimantan Utara masih banyak mengarah ke Kalimantan Barat. Melalui penjajakan kerja sama ini, Kukar membuka peluang untuk menjadi salah satu pusat distribusi dan pengembangan kratom di wilayah Kalimantan.
Kerja sama yang direncanakan tidak hanya mencakup aspek produksi, tetapi juga penguatan jaringan pemasaran, peningkatan kualitas, hingga pengembangan skema bisnis antar pelaku usaha.
Hingga saat ini, pembahasan masih berada pada tahap awal. Namun, kedua daerah sepakat bahwa kratom memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan baru berbasis ekspor di Kalimantan. (*)








