okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – UMKM anak muda di Kutai Kartanegara mulai bergerak keluar dari pola konvensional yang selama ini banyak didominasi kuliner. Di tengah kegiatan Musyawarah Anak Cabang (Musancab) PDIP Kukar, komunitas kreatif Flex In Club menampilkan produk lifestyle bernuansa retro yang menunjukkan arah baru ekonomi kreatif lokal.
Kehadiran produk-produk tersebut membuat suasana Musancab di Gedung Puteri Karang Melenu, Tenggarong Seberang, terasa berbeda. Forum politik itu tidak hanya diisi konsolidasi kader, tetapi juga menjadi ruang kecil bagi anak muda untuk memperkenalkan karya kreatif mereka.
Flex In Club menjadi salah satu yang mencuri perhatian. Komunitas ini membawa konsep retro dalam produk yang mereka garap, mulai dari desain, tampilan visual, hingga karakter brand yang ingin dibangun.
Berbeda dari UMKM yang umumnya identik dengan makanan dan minuman, produk lifestyle yang mereka tampilkan lebih menonjolkan gaya, identitas, dan ekspresi anak muda. Pendekatan itu menunjukkan bahwa pelaku muda di Kukar mulai melihat UMKM bukan sekadar aktivitas jual beli, tetapi juga ruang membangun brand.
Wakil Bupati Kutai Kartanegara sekaligus Ketua DPC PDIP Kukar, Rendi Solihin, melihat potensi tersebut saat hadir dalam kegiatan itu. Menurutnya, anak muda Kukar mulai berani tampil dengan gagasan dan karakter produk yang berbeda.
“Anak-anak muda kita sudah mulai berani tampil dengan identitas dan kreativitasnya,” ujarnya.
Rendi menilai geliat tersebut perlu diberi ruang agar ekonomi kreatif di Kukar tidak berhenti pada sektor yang sudah umum. Selain kuliner, produk lifestyle, desain, merchandise, dan karya berbasis komunitas juga berpeluang menjadi bagian dari kekuatan UMKM daerah.
Bagi Flex In Club, keikutsertaan mereka dalam kegiatan tersebut bukan hanya untuk memperkenalkan produk. Lebih dari itu, mereka ingin menunjukkan bahwa anak muda Kukar bisa membangun identitas kreatif melalui produk yang dekat dengan selera dan kultur mereka sendiri.
Fenomena ini menjadi sinyal bahwa UMKM di Kukar mulai bergerak ke arah yang lebih dinamis. Anak muda tidak hanya menjual barang, tetapi juga mulai menawarkan cerita, konsep, dan karakter visual yang lebih kuat.
Namun, peluang tersebut tetap membutuhkan ruang promosi, pendampingan bisnis, serta akses pasar yang lebih luas agar tidak berhenti sebagai pajangan dalam kegiatan sesaat.
Jika ruang semacam ini terus dibuka, Kukar berpeluang melahirkan lebih banyak brand kreatif berbasis komunitas. Di tangan anak muda, UMKM tidak lagi hanya soal produk yang dijual, tetapi juga identitas yang dibangun. (atr/bby)








