okeborneo.com, SAMARINDA – Pendidikan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menilai keluarga harus menjadi mitra aktif dalam proses belajar, mulai dari memberi teladan, mendampingi anak di rumah, hingga menjaga komunikasi dengan sekolah.
Pesan itu disampaikan Hetifah dalam workshop bertema “Membangun Sinergi Sekolah dan Keluarga sebagai Fondasi Pendidikan Anak Berkualitas” di Harris Hotel Samarinda, Sabtu (2/5/2026). Kegiatan yang digelar dalam rangka Hari Pendidikan Nasional tersebut diikuti 100 guru dan komite sekolah se-Kabupaten Kutai Kartanegara.
Hetifah mengatakan, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses belajar di ruang kelas. Menurutnya, lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter, kebiasaan belajar, dan kedekatan emosional anak.
“Keluarga harus menjadi mitra aktif pendidikan, memberikan teladan nilai, mendampingi belajar, dan menjaga komunikasi emosional dengan anak,” ujarnya.
Ia juga mendorong sekolah menjadi ruang yang lebih ramah keluarga. Hal itu dapat dilakukan dengan membuka kanal komunikasi yang mudah diakses, memberi ruang partisipasi bagi orang tua, dan membangun hubungan yang tidak hanya berlangsung saat ada persoalan.
Menurut Hetifah, sekolah dan keluarga perlu berjalan dalam arah yang sama. Nilai-nilai yang dibangun di sekolah akan lebih kuat apabila mendapat dukungan dari rumah.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Provinsi Kalimantan Timur, Muhammad Ruslie, turut menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara sekolah dan orang tua. Ia menilai sinergi dapat dibangun melalui penyelarasan nilai dasar, seperti disiplin, etika, dan kebiasaan belajar.
Selain itu, keterlibatan orang tua dalam program parenting juga dinilai penting agar pendampingan anak tidak hanya berhenti pada urusan akademik.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara, Thauhid Afrilian Noor, menyampaikan bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan sekolah. Rumah menjadi fondasi awal, sedangkan sekolah memperkuat aspek akademik, sosial, dan keterampilan.
Dalam kegiatan tersebut, narasumber Suharman menambahkan bahwa kemitraan sekolah dan keluarga perlu didukung program yang terarah. Salah satunya melalui peningkatan kapasitas guru dalam membangun komunikasi efektif dengan orang tua.
Narasumber lainnya, Wildaniyati, menyoroti pentingnya praktik konkret di lingkungan sekolah. Forum komunikasi rutin dan kegiatan kolaboratif dinilai dapat menjadi ruang bagi orang tua untuk terlibat langsung dalam proses pendidikan anak.
Melalui kegiatan ini, Hetifah berharap kolaborasi antara sekolah dan keluarga tidak berhenti sebagai tema peringatan Hardiknas, tetapi menjadi praktik berkelanjutan dalam membangun pendidikan anak yang lebih berkualitas. (*/bby)








