okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Kelompok musik tradisi asal Kutai Kartanegara, Petala, meluncurkan album kedua bertajuk Puratanabhumi. Melalui sembilan lagu, kelompok tersebut membawa sejarah, bunyi tradisional, bahasa daerah, dan identitas Kutai ke dalam karya musik yang mereka produksi secara mandiri.
Ketua Petala, Achmad Fauzi, mengatakan nama Puratanabhumi dimaknai kelompoknya sebagai “suara tanah tua”. Nama tersebut dipilih untuk menggambarkan Kutai sebagai wilayah yang menyimpan jejak sejarah dan kekayaan budaya.
“Kenapa Puratanabhumi atau suara tanah tua? Karena Kutai dikenal sebagai salah satu kerajaan tertua di Indonesia. Artinya, tanah ini menyimpan begitu banyak sejarah, literasi, dan harta karun berupa kebudayaan. Semua itulah yang kami coba soroti melalui lagu-lagu di album ini,” ujar Fauzi usai peluncuran album, Jumat malam, 10 Juli 2026.
Menurut Fauzi, setiap lagu dalam album tersebut lahir dari kegelisahan sekaligus kebanggaan terhadap kekayaan budaya Kutai yang dinilai belum banyak dikenal masyarakat luas.
Album itu digarap selama hampir satu tahun. Proses kreatif dimulai pada Agustus 2025 dengan merilis lagu secara bertahap sebagai singel di platform digital. Sembilan lagu tersebut kemudian dihimpun menjadi album penuh pada Mei 2026.
Hampir seluruh proses produksi dikerjakan secara mandiri oleh para personel Petala, mulai dari rekaman, pencampuran audio, hingga penyelesaian akhir.
Fauzi mengakui proses produksi mandiri menghadirkan sejumlah kendala teknis. Namun, ia menilai tantangan terbesar justru menjaga semangat para personel agar terus bergerak dan menghasilkan karya.
“Kalau kendala teknis itu wajar karena semuanya kami kerjakan sendiri. Namun, yang paling besar sebenarnya ketika kami berhenti bergerak. Selama kami terus berkarya, kendala selalu bisa dicari solusinya,” katanya.
Petala merupakan identitas baru dari kelompok musik yang sebelumnya dikenal sebagai Olah Gubang. Setelah sekitar satu dekade berada di bawah naungan Yayasan Gubang, kelompok tersebut membangun manajemen lebih mandiri sekaligus memperkenalkan nama baru.
Fauzi menjelaskan, nama Petala diambil dari istilah Melayu kuno yang mereka maknai sebagai lapisan atau tingkatan. Filosofi itu menggambarkan harapan agar kelompok tersebut terus tumbuh dan mencapai jenjang yang lebih tinggi.
“Kalau bicara alam, ada tujuh lapis. Kalau musik, ada tujuh nada. Petala kami maknai sebagai tingkatan. Harapannya, kami terus naik, berkembang, dan mencapai tujuan yang lebih besar,” jelasnya.
Peluncuran album kedua tidak membuat kelompok itu berhenti memproduksi karya. Fauzi mengatakan Petala telah memulai proses penggarapan album ketiga.
Menurutnya, musik berbasis tradisi memiliki peluang untuk menjangkau pendengar nasional maupun internasional. Unsur lokal justru dinilai dapat menjadi pembeda di tengah dominasi musik populer.
“Kalau musik pop atau musik Barat, mereka sudah punya. Namun, ketika kita membawa musik berbasis tradisi, bunyi-bunyian lokal, dan bahasa daerah, justru itu yang membuat mereka tertarik,” ujarnya.
Petala memilih memperbesar peluang tersebut dengan terus menambah jumlah karya yang dapat diperkenalkan kepada publik.
“Cara kami menembus panggung dunia adalah terus menghasilkan karya sebanyak mungkin. Ibarat peluru, kami lemparkan banyak karya sampai nanti ada yang benar-benar diterima dunia,” kata Fauzi.
Melalui Puratanabhumi, Petala tidak hanya memperkenalkan album baru. Mereka juga berupaya menjadikan musik sebagai medium untuk merawat ingatan tentang Kutai dan membawa identitas budaya daerah kepada pendengar yang lebih luas. (atr/bby)








