okeborneo.com, KUTAI KARTANEGARA – Desa Prangat Baru, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, membuktikan bahwa sektor pertanian bisa menjadi tumpuan ekonomi yang menjanjikan. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Fitriati, komoditas kopi berhasil berkembang pesat dan menjadi ikon pertanian unggulan yang kini menembus pasar nasional hingga internasional.
Luas lahan kopi yang digarap masyarakat saat ini mencapai 35 hektare. Tak hanya menjadi penghasilan utama warga, komoditas ini juga mulai menciptakan identitas baru bagi desa. Dengan kualitas yang diakui, produk kopi Prangat Baru telah dipasarkan ke hotel-hotel besar seperti Mercure dan Ibis di Samarinda.
“Kami bersyukur, pertanian kopi di sini mulai memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Bahkan permintaan terus meningkat, baik dari pasar lokal maupun luar negeri,” ujar Fitriati, saat ditemui di kebun kopi, Senin (14/7/2025).
Salah satu produk premium yang banyak diburu adalah kopi luwak, yang di lokasi wisata dibanderol hingga Rp4,25 juta per kilogram, sementara di pasar ekspor bisa mencapai Rp5 juta per kilogram. Hal ini menjadikan kopi sebagai komoditas bernilai tinggi dan menjanjikan keuntungan besar bagi petani.
Dalam satu tahun, petani menikmati dua musim panen, yang biasa disebut “musim merah”, yakni di bulan Februari dan Agustus. Rata-rata satu pohon kopi mampu menghasilkan hingga lima kilogram biji kopi, sedangkan satu hektare lahan dapat ditanami sekitar 500 pohon.
“Untuk kopi luwak, dari satu hektare bisa menghasilkan sekitar 500–700 gram per pagi. Jika dikalkulasi, pendapatan petani bisa sangat tinggi bila dikelola dengan baik,” jelas Fitriati.
Melihat potensi yang besar ini, pemerintah desa terus mendorong optimalisasi produksi dan pengolahan pascapanen, termasuk mengembangkan sektor wisata pertanian berbasis kopi. Hal ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi desa sebagai sentra kopi unggulan Kukar.
“Kami tidak ingin hanya menjual hasil panen. Kami ingin membangun seluruh ekosistemnya, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran berbasis kualitas,” tegas Fitriati.
Dengan semangat pertanian berbasis nilai tambah, Desa Prangat Baru kini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah desa bisa bangkit secara ekonomi melalui kekuatan komoditas lokal.(adv/distanakkukar/atr/ob1/ef)








